“Ibu, Bapak,” begitu aku memulai pertanyaan di seminar parenting lalu, “Siapa yang di sini baru punya anak satu?”
Hampir semuanya mengancungkan jari.
“Punya anak dua?”
Masih banyak yang ngacung.
“Anak tiga?”
Wuih, masih banyak aja.
“Anak empat?”

Beberapa sudah turun tangan, tapi masih banyak emak-emak yang ngacung. Sambil nyengir lagi.
“Oke, anak enam?”
Yang tadi nyengir mulai ketawa. Tapi tetap ngacung. Subur bener.
“Oke, anak delapan?”

Semua tangan sudah turun. Kecuali satu di pojokan sana. Ternyata bapak-bapak.
“Anak Sembilan?”
Sudah tidak ada yang ngancung.
“Oke, deal ya? Bapak yang anaknya delapan tadi boleh maju? Saya mau kasih hadiah buku buat Bapak.”
Bapak itu berdiri. Menggendong anak usia tiga tahunan. Cewek. Lantas berjalan ke arahku.

“Bapak bener anaknya delapan?”
Beliau mengangguk.
“MasyaAllah. Dari satu istri saja kah, Pak?”
Yang lain pada ketawa.
“Iya dari satu istri,” katanya.
“Yakin? Bohong dosa loh, Pak.”
Eh, si bapak ketawa. “Iya, gak bohong.”

Tapi kan aku belum kenal si bapak. Butuh dibuktikan dong, kalau anaknya benar-benar delapan. Jadi aku tanya-tanyalah beliau.
“Pak, anak nomor lima namanya siapa?”
Si Bapak langsung mikir. Nampak jari-jarinya berhitung. Susah bener beliau mengingat nama anaknya.

“Abdullah Fatih,” jawabnya semenit kemudian.
“Yakin?”
Wajah si Bapak kelihatan ragu,
“Bentar,” beliau menghitung-hitung lagi. Dan itu bikin emak-emak gemes.
Ini nih akibat cuma iuran tapi gak ikut ngerawat. Begitu mungkin batin emak-emak. Hehe.
“Iya, bener, Tadz. Abdullah Fatih, namanya.”

“Oke,” tapi aku harus tes lagi, “Ukuran sepatunya ananda Abdullah Fatih berapa, Pak?”
Kelimpungan lagi tuh si Bapak.
Beliau garuk-garuk kepala. Waduh, ngerti gitu gak usah ngaku punya anak banyak. Gitu paling ucap hatinya. Cuma buat dapet buku gratis doang ribet bener.

Si bapak nyengir, “Gak tahu. Yang beliin sepatu Uminya.”
Emak-emak langsung nyinyir, “Tuh, kan.”
Maksudnya, ‘Tuh kan iuran doang.’

“MasyaAllah,” aku tersenyum. Menyerahkan buku Cinta yang Tersambung hingga ke Langit buat beliau. “Titip salam buat istri, ya, Pak. Dia pasti wanita sabar. Sabar menghadapi tingkah suami. Hehehe.”
Si bapak tertawa. Mengangguk. Balik kanan. Kembali ke kursi.

Setelah itu aku sampaikan kepada semua peserta seminar, bahwa tak mudah menjadi orang tua dari delapan anak. Sebab ibuku juga punya delapan anak. Dan aku melihat sendiri bagaimana lelahnya ibu mengurus anak-anaknya.

Jangankan delapan, aku sama istri yang anaknya baru dua aja, rasanya pingin sholat taubat kalau lihat bocah-bocah sudah mulai rewel dan gak jelas maunya apa. Tapi insyaAllah, jika dilewati dengan sabar, dibekali ilmu agama yang mumpuni, anak-anak itu akan menjadi penyelamat kita di hari kiamat nanti.

Lantas, aku kembali bertanya,
“Bu, Pak. Kira-kira anak mana yang bikin ibu dan bapak sering istighfar lihat kelakuannya? Yang paling sulit diatur. Yang mana, Bu?”
Mereka pun menjawab, “Yang keduaaaa…”
Sisi kiri jawab, “Iya, nomor duaaa!”

BACA  Aku dan Istriku

Barisan tengah diem. Gak mau jawab. Rupanya itu barisan murid-murid SMA yang jadi panitia acara. Jelas mereka belum punya anak.
“Anak yang mana?”
“Nomor duaaa!!!”
“Nomor dua?”
Mereka mengangguk.

Sejurus kemudian aku berkata, “Kok beda ya jawaban orang Surabaya sama di Bekasi ini. Soalnya orang-orang Surabaya bilang anak yang paling sulit diatur itu bukan anak nomor dua, tapi ANAKNYA MERTUA.”
Dan meledaklah tawa emak-emak. “Iya bener! Bener! Anaknya mertuaku pun gak bisa diatur. MasyaAllah.”

Aku lihat sisi bapak-bapak, “Gimana, Pak?”
Dijawab, “Bener, Tadz. Anaknya mertuaku juga sama. Bikin sering wudhu saking panasnya kepala lihat cerewetnya dia.”
Setelah sekian lama, akhirnya mereka bersepakat juga. Bahwa, anak yang paling susah diatur adalah anaknya mertua. Fix.


Memang benar, dalam berkeluarga yang paling susah diatur itu ya anaknya mertua. Bukan anak kandung. Dan inilah tantangannya memang. Sebab bila anak mertua beres, maka anak kandung pasti ikut beres.

Cobalah tengok keluarga Nabi Ibrahim. Ketika Bunda Hajar dan Bunda Sarah beres didikannya, lahirlah anak-anak sholih macam Nabi Ismail dan Nabi Ishaq.
Atau keluarga Nabi Muhammad. Bunda Khadijah-nya beres, maka hadirlah dari rahimnya seorang putri nan cantik jasmani rohaninya; Fatimah Azzahrah.

Tapi bila anak mertuanya tak beres, anak kandung juga tak beres. Maaf, Nabi Nuh contohnya.
Bahkan seorang Nabi pun tak bisa menyelamatkan anak kandungnya dari kemurkaan Allah, tersebab pasangannya tak beres.

Itulah mengapa di Al-Quran surat Al-Furqan ayat 74, diajarkan siapa dulu yang harus didoakan dalam keluarga,
“… Duhai Tuhan kami, anugerahkanlah pada kami PASANGAN dan ANAK-ANAK kami sebagai penyejuk mata kami. Dan jadikan kami sebagai pemimpin orang-orang yang bertaqwa.”

Simak baik-baik. Ustadz Adi Hidayat mengatakan bahwa Al-Quran itu sistematis. Termasuk tentang penyebutan perintah. Dalam Al-Quran disebutkan ‘dirikanlah sholat dan tunaikan zakat’. Artinya sebelum berzakat, sholatnya benerin dulu. Sama seperti surat Al-Furqan ayat 74, ayat yang selalu menjadi doa ‘wajib’ setiap habis sholat ini. Yang pertama kali harus disebut dalam doa itu siapa?

Right, PASANGAN dulu. Baru anak-anak.
Karena kalau pasangan beres, anak pasti beres. Yakin. Sebab mereka adalah peniru terbaik di alam semesta ini. Mereka akan cepat meniru perilaku orang tua di rumah.

Lebih lanjut, di ayat yang sama sebenarnya Allah berpesan agar kita jadi pemimpin bagi orang-orang yang bertaqwa.
Catat, jadi pemimpin. Bukan jadi orang-orang biasa saja.
Inilah visi kedua dalam berumah tangga versi Al-Quran; ‘VISI 25.74.’ Surat kedua puluh lima, ayat ke tujuh puluh empat.
Hanya saja step by step-nya harus dilalui; BERESIN DULU PASANGAN — ANAK — BARU JADI PEMIMPIN.

Maka, jika kita ingin punya pemimpin yang baik, hayuk berjuang bersama di ranah keluarga ini. Tanamkan baik-baik pendidikan Tauhid di keluarga. Sebab musykil rasanya keluarga pecinta Al-Quran akan memilih pemimpin yang menistakan Al-Quran. Begitu pula sebaliknya.

“Tapi susah banget, Fit, ngurus istri. Cerewetnya itu loh. Pingin aku kasih rem cakram, dah.” Mungkin ada pak suami yang bilang seperti itu.
Iya, aku paham. Tapi istri juga mengaku sama, “Susah banget ngatur bocah kumisan itu. Ya Allah kudu sering istighfar pokoknya kalau lihat kelakuan dia. Pingin aku bawa dia ke Kyai buat diruqyah.”
Karena laki-laki dan perempuan memang BEDA. Dari sononya udah beda memang.

BACA  Hijab Bukan Penghalang Segalanya

Aku boleh cerita dikit, ya? Eh, gak dikit, ding. Agak panjang dikit. Eh, maksudnya panjang banget. Jadi kalau memang mau nyeduh teh hangat dulu silakan. Sekalian bikin dua, buat aku yang nulis biar gak ngantuk. Jangan lupa cemilannya juga. Tambah mie goreng Aceh juga gak apa, buat aku.
Aku tunggu lima menit, ya… bentar aku juga mau ambil minum dulu.


Lima menit kemudian…
Sruput…
Oke, aku lanjutkan. Sampai mana tadi? Oh, iya. Sampai nambah mie goreng Aceh. Eh, maksudku sampai bahwa laki-laki dan perempuan emang beda. Dari sononya.

Begini, berdasarkan riset pakar neurologi ditemukan fakta, bahwa manusia memiliki otak tengah atau bahasa gaulnya Corpus Callosum. Perlu diketahui, jika diibaratkan secara sederhana, Corpus Callosum ini adalah jembatan yang menghubungkan ‘kendaraan-kendaraan’ yang melintas dari otak kiri menuju otak kanan. Atau sebaliknya, dari otak kanan ke otak kiri. Nah, kendaraan itu adalah informasi.

Setelah diteliti, Corpus Callosum perempuan ternyata lebih tebal 30 persen dari laki-laki. Itulah sebabnya perempuan bisa mengerjakan banyak hal dalam satu waktu.
Mau bukti?
Lihat saja emak-emak di rumah. Dalam satu waktu dia bisa menyuci piring sambil masak. Nyuapin anak makan sambil lipat-lipat baju. Tangan balesin WA di grup, kaki ngepel lantai sekaligus.

Jadi jangan heran emak-emak bisa lakukan itu. Otak tengahnya tebel!
Bandingkan dengan laki-laki. Kalau sudah mengerjakan sesuatu selama 10 menit. Otomatis daya pendengarannya jadi turun drastis. Pikirannya gak bisa dipecah. Bahkan butuh sampai tiga kali dipanggil baru noleh tuh kepala suami.

Itulah yang menyebabkan sering ada cekcok dalam rumah tangga. Istri menganggap suami gak peka. Gak perhatian. Sedangkan suami sendiri bingung kenapa setiap istri manggil dia, pasti wajahnya bak monster. Padahal aslinya, si bapak noleh itu udah panggilan ketiga.

Saat suami baca koran, istri manggil,
“Papa ganteng,” manggil dengan tersenyum penuh cinta. Mirip orang yang baru dijanjikan beli gorengan di Mekkah.
Tapi suami gak noleh. Masih fokus baca koran.
“Papa sayang,” masih senyum, tapi mulai kecut.
Masih tetap gak noleh.

Akhirnya hilang sudah kesabaran emak-emak berdaster. Tak lama kemudian ia berubah wujud menjadi asli seasli-aslinya. Gigi taring seketika nambah tiga centi.
“PAPAAAH!!!”
Sang suami menoleh, menatap wajah istri sambil refleks baca ayat kursi.


Karena otak tengah laki-laki lebih tipis 30 persen dari perempuan itulah juga yang membuat suami gak bisa dimintai tolong beli barang lebih dari satu.
“Abi, popoknya adek habis, nih,” begitu ucap istri, “Tolong belikan popok di toko kampung sebelah, ya.”
Sang suami pun mengangguk. “Oke sayangku. Apa sih yang enggak buat kamu?”

BACA  Sehelai surat untuk istriku

Wajah istri bersemu merah muda, “Gombal.”
“Tapi seneng kan digombalin? Pake pel-pelan.”
Wajah istri yang tadi warna merah muda langsung jadi merah tembaga. “Berangkat!”

Dan berangkatlah si suami. Hanya saja ketika ia baru akan keluar pagar, si istri teringat sesuatu,
“Abi, aku juga titip beli rinso ya. Buat cuci baju. Sekalian susu coklat deh, pingin banget yang seger-seger. Sama kacang kulit gapapa.”
Suami mengangguk ragu. Dia baru mau jalan. Eh, dipanggil lagi.
“Abi, titip beliin kerupuk juga, ya. Dua ribu aja. Buat makan malam.”
Si Suami berucap lemah, “Oke.”

Setelah lima belas menit kemudian suami pulang. Istri membukakan pintu, sambil tersenyum. Tapi saat tahu apa yang dibawa suaminya, senyum si istri berubah jadi seringai serigala lapar.
“Kok Abi bawa kerupuk doang, siiiiiih?!!! Allahu Akbar. Ya Allah ampuni hamba. Ampuni dosa suami hamba. Berilah kami petunjuk-Mu…”

Si suami malah menimpali polos, “Aamiin.”
Padahal awalnya tadi kan titip popok si kecil. Endingnya malah dibawain kerupuk doang. Apes, dah.


Perbedaan lain antara laki-laki dengan perempuan terletak pada ‘Otak Bicara’. Diketahui bahwa fungsi otak bicara laki-laki yang aktif adalah sebelah kiri saja. Sedangkan perempuan otak kiri ditambah otak kanan depan. Maka jangan heran bila perempuan lebih bawel dari laki-laki.
Berdasar riset, laki-laki normal punya potensi bicara 5000 kata per hari.

Sedangkan laki-laki yang suka bicara paling mentok 9000 kata per hari. Sedangkan emak-emak, punya potensi memuntahkan 20.000 kata per hari. Ngeri! Dan 20.000 kata itu harus dikeluarkan, agar dia gak kena kram otak dan berakibat stroke.
Jadi, bagi perempuan CEREWET itu FITRAH. Sedangkan bagi laki-laki itu KUTUKAN.

Ya sudahlah, Pak. Biarkan istrimu bawel. Jangankan bapak, Umar bin Khotob aja sering diomelin istri. Dan beliau diem aja waktu kena omel gitu. Siapalah diri kita dibanding khalifah Umar? Jadi biarkan istri bawel di rumah. Meski panas kuping ini dengerin celotehnya yang itu-itu saja.

Kalau gak ngobrolin sinetron Adzab Viral pasti ngobrolin Double Azab. Itu artinya istri Anda masih normal dan sehat. Apa Bapak mau istri sering diem tapi tiba-tiba kena stroke?

Maka setelah mengerti riset tentang otak ini, diharapkan suami istri dapat menghindarkan diri dari percekcokan karena sudah saling memahami tentang ‘fitrah’ otak lelaki dan perempuan. Jadi diharapkan suami bisa nahan diri menghadapi cerewetnya istri.

Sedangkan bagi istri, bisa terus sabar menemani buto ijo dengan segala kelakuannya.
Akhir kata, semoga yang baca tulisan ini sampai tuntas Allah berkahi keluarganya hingga ke Jannah. Dikaruniai anak yang sholeh dan sholehah. Juga aku doakan semoga emak-emak segera lunas cicilan pancinya.

Indramayu, 30 Desember 2018
01.39 WIB
Fitrah Ilhami

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here