Dahulu, ketika anak-anak perempuanku masih kecil, aku ingin mereka tampil cantik, imut dan menarik, maka aku pun mendandani mereka dengan pakaian-pakaian yang lucu dan terbuka.Aku pun dengan bangga meng-upload photo-photo imut mereka di beberapa akun media sosialku untuk memamerkan kepada dunia betapa cantik dan imut nya mereka. Aku pun pada akhirnya membuat mereka terbiasa berbusana terbuka sejak kecil.
Sekarang ketika mereka remaja dan beranjak dewasa aku kewalahan melihat tingkah mereka yang suka tampil seronok dan sexy tanpa memperdulikan tata krama dan adab sopan santun. Tanpa sungkan dan malu mereka mengumbar aurat dan menjadi santapan mata para lelaki. Aku berusaha menasihati mereka, namun mereka membangkang hingga dadaku pun sesak sebab mereka tak lagi mengindahkan nasihat dariku.

Aku pun dengan bangga meng-upload photo-photo imut mereka di beberapa akun media sosialku untuk memamerkan kepada dunia betapa cantik dan imut nya mereka. Aku pun pada akhirnya membuat mereka terbiasa berbusana terbuka sejak kecil.
Sekarang ketika mereka remaja dan beranjak dewasa aku kewalahan melihat tingkah mereka yang suka tampil seronok dan sexy tanpa memperdulikan tata krama dan adab sopan santun. Tanpa sungkan dan malu mereka mengumbar aurat dan menjadi santapan mata para lelaki. Aku berusaha menasihati mereka, namun mereka membangkang hingga dadaku pun sesak sebab mereka tak lagi mengindahkan nasihat dariku.

Dahulu aku ingin anak-anak perempuanku mengasah bakat dan talent mereka sehingga mereka bisa menjadi seorang model terkenal, maka aku pun mengajarkan mereka berdandan, berjalan melenggak lenggok ala peragawati. Aku bahkan memasukkan mereka ke sekolah-sekolah modeling terkenal dengan biaya yang sangat mahal, agar mereka bisa lulus audisi model di beberapa rumah atau agensi model.
Sekarang, aku menyesal dan terpukul melihat mereka berpose sensual dan mempertontonkan hampir seluruh tubuh mereka ke hadapan publik. Mereka dengan bangga mengumbar kemolekan tubuh mereka di hadapan ratusan bahkan ribuan mata, tanpa sedikitpun rasa malu.

BACA  Ilustrasi Kecerdasan

Dahulu, aku bangga dengan banyaknya anak-anak lelaki yang menyukai dan memuja putri-putriku yang cantik. Para anak-anak lelaki itu silih berganti mendatangi rumahku untuk mengajak mereka hanging out ke kafe-kafe atau menonton di bioskop di malam minggu. Sungguh, anak-anak perempuanku bak madu dikerubungi lebah.

Maka aku pun membebaskan dan membiarkan mereka untuk bergaul, bahkan aku mendandani mereka dengan setiap mereka akan keluar rumah dengan pacar-pacar mereka. Dan kini, aku pun terhenyak dan terpukul saat menemukan photo-photo mesra mereka dengan sang pacar di beberapa media sosial; berpelukan dan berciuman dengan romantis bak pasangan suami istri. Bahkan aku makin syok ketika salah satu dari mereka hamil di luar nikah. Sungguh! tak pernah kubayangkan mereka akan sebebas dan berbuat sejauh itu.

Dahulu, ketika anak-anakku masih kecil, aku membiarkan dan enggan membangunkan anak-anakku untuk menunaikan ibadah shalat subuh dan isya’, karena meraasa kasihan dan tidak tega mengganggu tidur mereka yang sedemikian pulas.
Kini setelah mereka sudah baligh; remaja dan dewasa, aku kewalahan menyuruh mereka untuk menegakkan sholat wajib lima waktu; dan sungguh! aku sangat menyesal!

Dahulu, aku ingin anak-anakku tidak gaptek dan selalu mengikuti informasi perkembangan zaman, maka aku pun membujuk bahkan memaksa suamiku untuk membelikan mereka gadget, laptop dan TV di kamar masing-masing.
Kini aku pun menyesal sebab ternyata benda-benda tersebutlah yang menjerumuskan anak-anakku. Mereka menjadi sangat individualis, lebih suka menyendiri menghabiskan waktu di kamarnya masing-masing daripada berkumpul dengan keluarga di ruang tengah. Mereka sibuk dengan gadgetnya masing-masing tanpa ada pengawasan dariku. Mereka tenggelam ke dasar terdalam samudera dunia maya tanpa ku tahu apa-apa saja yang mereka lihat dan temukan di sana.

BACA  Keberuntungan dalam Kehidupan

Akhirnya mereka kecanduan internet, game online dan lebih parahnya, bahkan kini mereka lelah terjun bebas ke lembah pornografi dan menjadi pecandu film-film dewasa.

Dahulu aku lebih suka mengajarkan anak-anakku nyanyian-nyanyian dan tarian-tarian. Aku pun memasukkan mereka ke sanggar tari dan les musik.

Aku sangat bangga saat mereka yang masih kecil-kecil itu sudah fasih menyanyikan lagu-lagu cinta dan berjoged meliuk-liuk meniru gerakan orang dewasa.
Kini aku menyesal ketika melihat mereka lebih suka pergi ke kafe-kafe, club-club malam dan rumah-rumah karaoke bersama teman-teman mereka daripada pergi ke mesjid mengikuti kajian-kajian agama.

Dahulu, aku menginginkan anak-anak menjadi yang terbaik di kelasnya maka aku pun menjejali mereka dengan aneka les-les ilmu pengetahuan dunia; seperti les Biologi, Fisika, Kimia, Matematika, Bahasa Inggris dan lain sebagainya. Namun aku enggan mengajarkan mereka perkara shalat, membaca alquran dan ibadah-ibadah lainnya. Dan kini aku sangat menyesal sebab mereka tidak hapal bacaan doa-doa harian bahkan tidak tartil serta lancar membaca Al quran.

Dahulu aku mengidamkan dan memimpikan untuk memiliki menantu yang bisa kubanggakan kepada keluarga atau teman-temanku, maka aku pun memotivasi anak-anak perempuanku untuk mencari suami-suami yang kaya dan mapan. Tanpa sedikit pun aku pernah menyarankan agar mereka berusaha mendapat suami yang sholeh.

Kini, aku menyesal melihat kehidupan mereka yang hanya berorientasi pada kesenangan dunia semata, berpesta pora dan hura-hura serta menghambur-hamburkan harta tanpa sedikitpun mereka memperhatikan bekal untuk akhirat.

BACA  Budaya Antri dan Matematika

Kini Ku Menyesal

Kini, dadaku disesaki oleh bergunung-gunung penyesalan, sebab kini kusadari akutelah lalai sehingga aku gagal mendidik dan membentuk mereka menjadi insan beriman dan bertaqkwa serta berakhlakul kharimah.

Ketahuilah wahai para ibu, sesungguhnya aku tidak pernah berniat menjerumuskan anak-anakku ke jurang kehancuran dan aku pun tak pernah ingin mencelakakan dunia akhirat mereka.
Namun, sesungguhnya hal ini terjadi karena minimnya ilmu agamaku sehingga tanpa sadar aku salah dalam mendidik dan pada akhirnya menghancurkan mereka.

Wahai ibu di seluruh dunia, dengarkan aku!

Janganlah kalian menjadi seperti aku, sebab kelak ketika nasi telah menjadi bubur, kalian akan menyesal seperti apa yang sedang kurasakan sekarang.
Sadarilah wahai para ibu di seluruh dunia, engkau lah Al Ummu Madrosah Al Ula yaitu Madrasah pertama bagi anak-anakmu.

Maka, janganlah kalian pernah bosan belajar dan belajar ilmu agama sebab engkaulah role model dan suri tauladan bagi anak-anakmu.
Dan bekalilah diri kalian dengan ilmu agama, rajin-rajinlah mendatangi kajian-kajian ilmu agama.

Jadikanlah Al Quran dan Hadits sebagai pegangan dan pedoman hidupmu serta sebagai belakmu dalam mendidik anak-anakmu sehingga kelak mereka akan menjadi anak-anak yang sholih dan sholihah.

Wahai ibu di seluruh dunia, sekali lagi kukatakan: Janganlah kalian menjadi seperti aku!

Nurmalia Siregar
Pekanbaru, 24.11.2018
Sunday, 03.00 AM

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here