#CelotehBunda

^^

Well, tadi saya ngobrol dengan salah seorang teman. Dari timur ke tenggara sampai akhirnya ke timur laut. Lalu teman saya ini curhat.

“Ka, suamimu kalau gajian uangnya dikemanakan?” tanyanya.

“Dikasih ke aku, kenapa emang?” jawabku tanpa ragu. Karena memang begitu kenyataannya.

“Enak, ya, jadi kamu. Dibawa merantau jauh-jauh, hidup dienakin, gaji dikasihin. Kalau aku kok sedih, setiap gajian aku cuma dijatah. Sebulan terima 1,5juta. Uang sekolah anak tiga orang, susu untuk dua anak, si bungsu aja susunya soya karena alergi susu sapi, soya harganya mahal. Include uang belanja sampai bulan depannya lagi. Belum kebutuhan lain seperti uang jajan anak di sekolah dan di rumah, bayar listrik, iuran RT tiap minggu, aku mentok setiap bulan maksimal sisa 200ribu masuk rekening. Itu juga kalau suamiku butuh bensin motor masih minta lagi.”

Sontak saya merasa bersalah karena menjawab terlalu jujur.

Selama ini, saya full memegang uang bulanan suami. Tidak sepeser pun ia ambil uang gaji untuk kantongnya sendiri.

Suami saya tidak merokok, dia hanya butuh uang bensin yang kebetulan sudah ada tunjangan transport dari tempat kerja. Makan, saya masak setiap hari, untuk makan siang dia bawa bekal dari rumah.

Lalu, apa suami tidak punya tabungan? Alhamdulillah punya. Karena yang turun ke saya hanya gaji pokok. Dia masih pegang yang lain, seperti bonus mingguan. Nah, dari bonus mingguan inilah kami pakai untuk belanja kebutuhan rumah, liburan sekali dalam sebulan, tidak perlu jauh karena istri dan anak sudah cukup senang hanya dengan mengunjungi tempat yang dekat dari rumah. Sisanya, dia masukkan ke tabungan pribadi. Lalu uang bulanan yang di saya untuk apa? Itulah nafkah yang dia janjikan bagi saya.

BACA  Istri 'Boros' Rezeki Suami Makin Lancar

Di sini, saya mau sedikit memberi pukulan untuk para suami ‘pelit’ di luar sana.

Pemahaman kalian soal nafkah, sering keliru selama ini. Nafkah itu bukan uang belanja yang akan kalian makan bersama di dalam rumah. Bukan uang untuk membeli beras, sayur, ikan. Bukan!

Nafkah itu yang hanya milik istri seorang. Yang setelah kalian berikan kepada istri, maka kalian membutuhkan izin untuk memakainya.

Makan dan kebutuhan rumah itu kewajiban kalian sebagai ayah dan suami. Tidak bisa kalian definisikan sebagai nafkah yang sebenarnya.

Coba kalian pikir, satu bulan Rp. 1juta untuk istri. Tapi, dipotong uang belanja kebutuhan rumah, jajan anak, susu anak dan berujung tanpa sisa untuk dirinya sendiri.

Lebih baik kalian beri dia Rp. 500ribu perbulan, tapi jangan pernah diganggu lagi.

Bagaimana bisa disebut nafkah, jika yang didapat istri hanya sisa?

Ini bukan tentang seberapa besar penghasilanmu sebagai suami. Melainkan tanggung jawab dan janji saat kamu mengucap qobiltu di depan penghulu dan saksi.

Percayalah, meski sedikit istrimu tetap akan bahagia, selama itu kamu berikan memang untuk dirinya sendiri. Istri-istrimu juga tidak akan mengecewakan, mereka memiliki uang bukan untuk kesenangan sendiri. Suatu saat, jika menghadapi kesulitan, maka istrimu bisa diandalkan.

Jangan sekali-kali kamu membandingkan lelahmu yang bekerja seharian, dengan istri yang hanya diam di rumah.

BACA  6 Alasan Mengapa Islam Melarang Suami Membentak Istri

Karena mencari nafkah adalah kewajibanmu sebagai kepala keluarga.

Jika ingin membandingkan. Begini hitungannya. Kamu bangun pukul tujuh, mandi, dan sarapan sudah tersedia, kamu pergi kerja dan pulang, mandi, makan malam tersedia, lalu tidur.

Saya jabarkan kerepotan istri. Bangun pukul enam paling lambat, mandi, masak, cuci baju, melayani sarapanmu. Setelah kamu pergi bekerja, jangan pikir istrimu tiduran santai di atas kasur.

Istrimu jadi pengasuh, guru, teman bermain untuk anak-anakmu. Mengurus makanan mereka, membereskan rumah yang memang kenyataannya tidak pernah beres. Anak tidur, apa istrimu bisa ikut tidur? Tidak. Lantai rumah perlu dipel, karena makanan anakmu berserakan di sana, mainannya bertebaran. Botol susu perlu dicuci, disterilkan. Makan siang mereka perlu dimasak lebih dulu. Anakmu bangun, lantai yang sudah dipel kotor lagi, mainan berantakan lagi, sampai akhirnya kamu pulang, dia sudah rapi untuk menyambutmu. Bukan karena dia bisa bersantai, kamu tidak tahu betapa sulitnya bersolek sambil menyusui bayi, hanya agar lelahmu berkurang saat melihat istri tampil cantik.

Itu hanya kesibukannya saat siang hari. Lalu saat malam? Sisa lelah dari siang harus dilupakan saat kamu mulai mencolek-colek, berbisik-bisik, padahal matanya butuh istirahat selagi anak-anaknya tidur. Tapi karena kewajiban, istri tetap terjaga melayanimu.

Gaji Baby Sitter Rp. 2,7 juta minimal, hanya menjaga anakmu. Gaji pembantu Rp. 1,7 juta minimal. Lalu, kamu masih pelit memberi nafkah kepada istri?

BACA  Tentang "kemandirian" istri

Tenggak tuh racun serangga!

Noted:
Bukan memukul rata kondisi rumah tangga. Tulisan ini ditujukan untuk suami ‘pelit’. Jadi baca yang betul dulu baru komentar.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here